'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Idea
Home » Idea
Menata Kaderisasi Melalui Amal Usaha (spesifik= Rumah Sakit)
25 Maret 2017 16:56 WIB | dibaca 605
oleh: Min Adadiyah, SKM, MPH. (Sekretaris LPPA-PDA Temanggung)

Amal usaha adalah tempat bekerja yang  menghabiskan waktu sebagian besar para karyawannya. Waktu yang dilewati seorang karyawan amal usaha selama bekerja bisa jadi lebih panjang dari waktu lain yang dilaluinya dalam keadaan terjaga.  Mari kita hitung. Seorang karyawan di sebuah RS rata-rata akan menghabiskan waktu minimal 7 jam (jika dinas malam bisa lebih panjang, sekitar 11 jam) dari 24 jam yang diberikan Allah SWT padanya per hari. Apabila jarak dari rumah menuju tempat kerja menghabiskan waktu kurang lebih 1 jam, maka 8 jam yang akan digunakan untuk berada di amal usaha. Waktu rerata istrahat atau tidurnya sekitar 6-8 jam juga. Tersisa 8 jam  digunakan untuk beraktivitas lain di luar rumah sakit. Dua jam melaksanakan tugas pimpinan di luar jam kerja. Dua jam bersosialisasi (menghadiri pernikahan, aqiqoh, kajian, dll). Dua jam  bersama anak dan keluarga. Dua jam jika masih ada aktivitas usaha ataupun kegiatan lainnya (persiapan untuk bekerja, menjawab telepona atau wa dari rekan kerja, dsb).  Dan habislah waktu yang 24 jam itu.

Maka, dapat dikatakan bahwa waktu terjaga (tidak tidur) seorang karyawan selama di amal usaha relatif lebih panjang dari waktu apapun yang dilaluinya.  Waktu  yang dihabiskan selama di amal usaha lebih panjang dari waktu bersosialisasi, waktu bersama keluarga, waktu untuk tidur dan waktu-waktu lainnya. Oleh karena itu, amal usaha seharusnya bisa menjadi ladang yang subur untuk menata kader. 

Seorang calon karyawan amal usaha bisa jadi bukan seorang kader terbaik persyarikatan ini. Bisa jadi diterimanya bekerja dalam amal usaha adalah karena kompetensinya dalam profesinya. Namun, dapat dipastikan bahwa seorang karyawan di amal usaha pasti telah melewati serangkaian test yang kemudian meloloskannya menjadi karyawan di amal usaha. Minimal, dia pasti bisa membaca surat Al Fatihah. Ini berarti, secara material (baca = modal dasar), seorang karyawan di amal usaha merupakan orang terpilih (hatta, sesederhana apapun metode recruitmennya). 

Waktu yang panjang dan material yang terpilih, kiranya cukup menjadi bahan baku kaderisasi. Tinggal bagaimana mencreate bahan baku yang sudah tersedia ini menjadi kader persyarikatan yang Islamy. Allahu A'lam. 

Shared Post:
Arsip
Idea Terbaru
Berita Terbaru